Jumat, 20 Mei 2016

Marga Agadide Bukan Maksiat

Foto: sumber google.com

Marga adalah satuan taksonomi di antara suku dan jenis, serta merupakan wadah yang mempersatukan jenis-jenis yang erat hubungannya, nama marga ditulis dan selalu tercantum dl nama jenis. Dan  Allah telah tetapkan manusia daerah yang formal.

Khususnya, marga yang sengaja diciptakan untuk menampung suatu wilayah atau kampung yang jelas sebagian dari jenis  atau khusus. Dan juga, monotipe marga yang hanya mempunyai satu jenis.

Pada umumnya agadide merupakan daerah yang luas dan beberapa petak petakan oleh sungai atau kali, namanya ekadide, agadide, bogodide, uwodegide, degeuwodide dan beberpa dusun yang penulis tidak sempat  sebutkan satu per satu.

Nah, disanalah yang tempat sarang kita orang agadide, daerah yang di bagian ufuk timur ketika memandang dari jantung kota enarotali kabupaten paniai papua. Kemudian marga yang telah utuskan di wilayah agadide batas hingga batas sebanyak 129 marga adalah hak ulayat pribumi asli agadide besar.

Dalam ini, sejumlah marga yang ada di daerah agadide besar merupakan kultural dan sejarahnya, telah terbentuk dari leluhur sejak nenek moyang  di tetapkan sebagai alat turun temurun dari berbagai generasi ke generasi pada generasi terkini. Dan sejarah tersebut  tak dapat ubah dari asal mula manusia pertama berjalan meneroboskan manusia zaman kini, sesuai dengan masing-masing marganya sendiri.

Menyebutkan, alies agadide merupakan beribuh kampung dunia di antara salah satu kampung terpencil, walaupun itu, penulis sebagai tempat tumpah darah, darah kelahiran. Makanya, kami penulis sengaja menulis melalui tulisan agar tujuan utama otak manusia segampang terlupa ludes daya ingatan tuk mengukir sejaranya, salah satunya asal usul sejarah orang asli kampung tersebut untuk itu perlu ada punya memiliki dokumen sepesial baginya.

Melihatnya sebuah kampung  yang telah mengulaskan menjadi bahan pembelajaran dan bahan gaid, dapat mengetahui setiap orang tak terkecuali. Alasannya, merupakan geografis luas, warna alam yang hijau, flora dan fauna serba lengkap kekayan alam begitu kaya lagi sosok wajah alam di permai. Untuk itu, sangat penting  membidikan sebagaimana hal yang biasa dengar  dan biasa melihat pada diri kita menafsirkan melalui tulisan.

Zaman terkini,  pengetahuan, sejarah asal usulnya  sering membingunkan dan seperti apa histori yang asasnya, itulah menculkan dalam hati, tetapi hal yang sama  hanya karena  kita belum tanya kepada orang  tua atau tete nenek kita yang tahu sejarahnya sendiri. Yang sementara ada bakan pula telah meninggal sebelumnya, bagi mereka masih hidup.

Sebagai konkrit  dapat menjelaskan salah satu marga yang  pencipta memposisikan di kampung adalah salah satunya marga Muyapa. Dan sekarang, marga muyapa  sudah memasuki pada generasi ke 7  (tujuh), mulai terhitung dari sejak pembentukan nenekmoyang  hingga kini batas  generasi penulis.

Dalam, Selama liku-liku kehidupan pembentukan manusia pertama hingga saat ini ada berbagai jejak yang lalui dan perjalanan panjang tetapi sulit di telusuri oleh penulis tuk menulis secara detail dan sulit menjangkau jejak mereka.

Tetapi, jelas penulis hanya menafsirkan bersifat akronim atau hanya singkat saja”  walaupun itu, terjadi pada penulisan singkat tetapi ini sangat bermakna bagi kami agar dapat menerima dan mengerti dari gen atau turun temurun dari generasi ke generasi mungkin jelas. Sehingga, hal yang sama pula kita dapat temerus asal usul kurturalnya memberikan dan menyampaikan kepada generasi anak susu kita pada masa mendatangnya.

Jayapura, Papua, (28/01/2016)
Penulis, Muyapa Nakaga Yosafat Maiwatiya Muyapa

Komunitas Coba-Coba Menulis

About Komunitas Coba-Coba Menulis

Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo.

Subscribe to this Blog via Email :