Header Ads

Seo Services

STIKOM Muhammadiya: “Pendidikan untuk Perbaikan Kualitas Bangsa



Foto Dock: Pribadi Maii Muyapa/KM
Oleh: Yosafat Maii Muyapa


Selamat  Siang!

Kampus biru STIKOM Muhamadiya Jayapura yang profesional. Konkrit Semboyang tak ubah-ubah 20 abad lalu hingga pada kini.  STIKOM Muhamadiyah  Jayapura telah mengetok hati dan merajalelah diatas dunia lebih khususnya di papua bahwa “Jangan Sekali-kali Bimbang dan ragu-ragu tapi datanglah pada-Nya Semua yang lebih berbeban hati Aku akan memberikan bekal hidup  untuk-Mu dan menjunjung tinggi nilai-nilai Ahklak mulih dan bertaqwa kepada Allah.

Muhammadiyah pun telah ukir beragam impian  tergores tiap langka lembaran hayat  kita begitu sempurna dan  melebar luas makna dan visi Muhammadiyah konteks Pendidikan.   

Sebab, Perbaikan kualitas bangsa harus ditempuh dan terutama melalui pendidikan. Pendidikan itu proses yang panjang.  Yang  tak henti-hentinya untuk mencapai satu tujuan dan terbuka untuk menerima ide-ide dan konsep-konsep baru.



Itu makna pendidikan, sehingga suatu saat hasil dari pendidikan itulah yang akan menumbuhkan budaya baru dengan manusia yang cerdas bakan memiliki intelegensi secara nasionalisme dan universal.




Seketika. Manusia itu cerdas atau berkualitas dalam bidang yang telah di tekuni maka ia mempunyai kebijakan dan kebajikan dalam jiwanya. Setelah itu dia mampu menguasai sains dan teknologi. Budaya baru itulah yang menjadi kontra budaya yang kemudian masuk ke dalam tatanan menjadi masyarakat (budaya) alternatif yang akan dipilih oleh bangsa ini.

   Pepatah kata Kuno mengatakan “Banyak Jalan menuju ke roma tetapi hanya satu jalan menuju ke surga. Semuanya melalui pendidikan yang tertata rapi: pendidikan yang mampu mencerdaskan, mampu menumbuhkan jiwa yang bijak dan bijak, dan menguasai sains dan teknologi. Itulah nanti yang akan mengubah bangsa Indonesia menjadi Indonesia baru.

Hal ini tampaknya akan menjadi ”momok” bagi pendidikan di Indonesia. Belum lagi persoalan kekurangan tenaga pendidik profesional.  Masalah  sarana pendidikan yang tidak memadai muncul, dan menyusul persoalan mahalnya biaya pendidikan. Batin telah patah di Jalan raya torotoal kamkey tanah hitam Komplek Kampus Biru.

Kita masih merasa sebagai bangsa yang tertinggal dalam berbagai hal dibandingkan dengan bangsa lain. Oleh karena itu satu-satunya jalan untuk mencerdaskan bangsa adalah dengan meningkatkan pendidikan demi untuk menjadikan bangsa yang cerdas melalui sistem pendidikan nasional yang menyeluruh dan terencana.


 Namun untuk menuju ke arah itu, jalan yang ditempuh sangat panjang dan berliku karena persoalan pendidikan sangat terkait dengan faktor lain, termasuk masalah ekonomi, keamanan dan masalah sosial lainnya.


Para guru pun diharapkan mulai mengubah cara belajar kepada siswa. Para guru pun tidak boleh lagi memberikan tekanan kepada siswa seperti pelajaran menghafal dan memberikan soal pilihan ganda (multiple choice) karena bisa berdampak pada pembentukan
karakter kepribadian dalam upaya belajarnya.


Peran pendidikan, sebagai sarana pemberdayaan, harus secara sadar menyiapkan peserta didik dalam kehidupan masyarakat baik sebagai individu maupun anggota masyarakat. Pemberdayaan hanya mempunyai makna jika proses pemberdayaan menjadi bagian dan fungsi dari kebudayaan.


Oleh karena itu, pendidikan harus menumbuhkan jiwa independensi, menggerakkan pernyataan diri dan para pendidik mengajar siswa untuk hidup dalam harmoni dengan menghargai adanya perbedaan tanpa etnis identitas agama dll.

Ke depannya, sistem pendidikan harus berubah dari instruksional menjadi motivasional berprestasi, berkreasi, dan berbudi pekerti
untuk wujubkan sebuah harapan bangsa dan inpelementasi secara Muhammadiyah yang begitu unggul, trampil dan berbobot.

Dan salah satu bidang adalah jurnalistik. Di papua dibalik penderitaan dan tangisian air mata. Maka untuk ungkap atas kenyataan diatas tanah leluhur ini ketika wartakan benar-benar inventigasi atas konflik dan melebar luaskan di dunia dengan tindakan separatisnya.

Aku bangga? STIKOM Muhammadiyah karena adanya jurnalistik.

Penulis: Mahasiswa STIKOM Muhammadiyah

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.